Sabtu, 17 Maret 2012

Dia

Dia miskin? Bukan berarti dia miskin ilmu

Dia miskin?

Apakah itu inginnya?

Adakah yang bisa menjawab pertanyaannya?

Hanya Ia yang dia percayai yang bisa memberikannya jawaban

Karena hidup adalah pertanyaan dan muara jawaban ada pada Tuhan


Dia miskin? dia terbiasa menelan kepahitannya sendirian

Dia terbiasa jadi saksi apa yang mereka pamerkan dan pertontonkan

Matanya terbiasa, benaknya terbiasa, hatinya yang juga inginpun terbiasa

Dia terbiasa dengan unsur-unsur congkak duniawi yang menginjaknya


Dia terbiasa tidak punya apa yang orang lain punya

Dia terbiasa untuk menahan diri karena tahu material yang dimilikinya

Dia tahu, dia mafhum, dia terima saat ekspektasinya takkan mudah terpenuhi

Saat waktu dan kondisi seolah menjadi tirani

Dia tahu itu, tak perlulah kalian beritahu

Kalau dia bukan sang putri, dia tahu dia upik abu


Tapi benarkah ia miskin?

Materi memang.. tapi dia punya mimpi

Dia punya angan, punya asa, punya tekad

Dia punya awannya sendiri


Dia mencari ilmu, dia punya tulisan

Ketika raganya mati, pemikirannya takkan ikut mati


Dia punya mimpi

Masihkah kita sebut dia miskin?

Masihkah kita sombongkan apa yang kita miliki? Segala yang hanya sementara itu?


Dia sama sekali tidak miskin.

Apa lagi kini? Permasalahannya... tentang perbedaan lagikah?

-Resannisa, 16 Maret 2012


*Karena ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan keinginan bersumber pada kepahitan... itulah hidup bagi golongan orang-orang tertentu.. Orang-orang yang percaya akan mimpi dan perwujudannya. Orang-orang yang berikhtiar untuk masa depannya.*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar