Sabtu, 26 Januari 2013

The Reason

Post kali ini intinya adalah alasan, bermaksud untuk mempertanyakan alasan dan juga memberi alasan.

Sudah berlalu 2 tahun, 2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu, apalagi menunggu sesuatu yang tidak jelas-jelas. Rasanya dari dulu saya tetap seperti orang yang meraba-raba dalam gelap, bingung dengan musim yang berganti-ganti.

Pertanyaan saya sejak 2 tahun yang lalu masih sama: Apa alasannya?
Yep, apa alasan sebenarnya kenapa dia tiba-tiba menjauh dan meninggalkan saya yang waktu itu sudah merasa nyaman ada di dekat dia? Apa alasannya tiba-tiba dia berbalik arah, pergi dan bersikap seperti orang asing yang seolah tidak pernah muncul di kehidupan saya dan bersikap seolah tidak pernah meninggalkan kesan spesial apapun?

Berkali-kali saya berspekulasi, berhipotesis dan tetap saja saya tidak tahu apa jawabannya, apa alasannya. Sampai sekarang.

Saya yakin dia tahu, saya yakin dia membaca semua yang saya tulis di blog ini tentang dia dan bagaimana saya masih mengharapkan dia akan datang kembali dengan senyum yang sama, yang selalu berkelebat di benak saya tanpa diminta. Saya yakin dia tahu seberapa serius perasaan saya. Hanya saja, dia pura-pura untuk tidak tahu.

Beberapa waktu lalu dia masih sering bersikap hangat *masih dengan sikap yang sama, sikap seolah tidak terjadi apapun* tapi kemudian dengan cepat dia berganti haluan kembali. Musim dingin kembali datang dan saya tidak pernah tahu kapan musim seminya. Saya benci respons yang dingin, saya juga benci harus mengingat-ngingat apa yang terjadi di masa lalu, saat 2 tahun lalu, saat seringnya kami berbagi percakapan seru di twitter, sms, chat dan berkirim e-mail, masa yang tidak kunjung terulang kembali dan saya juga membenci diri saya sendiri karena masih tetap menunggu di depan pintu dan yakin dia akan datang lagi.

Tapi tidak, dia memang pergi. Hatinya yang saya kenal 2 tahun lalu telah berubah beku khusus untuk saya.

Apa alasannya?

Perkiraan saya ada banyak *yah, saya memang terus mengira-ngira, terus berada dalam zona abu-abu yang tak juga terang*.

Pertama, mungkin dia adalah tipe lelaki yang istilahnya di zaman sekarang adalah pemberi harapan palsu (it sounds guilty but I know it’s true phenomenon: php), dan labil. Tapi saya menghalau spekulasi saya yang pertama ini karena saya yakin dia bukan orang seperti itu. Saya yakin dia lebih dewasa dan tidak akan mempermainkan perasaan orang lain. Kalaupun benar, pemberian harapan palsu juga terjadi karena kesalahan korbannya, berarti memang saya yang terlalu kegeeran.

Kedua, mungkin dia berubah karena saya menyebalkan, saya tidak cantik, saya tidak seperti yang dia bayangkan, saya berbeda kelas dengan dia, tentu, saya cuma mahasiswi yang berasal dari keluarga sederhana di rumah yang sederhana, kost-an sederhana di gang sempit, saya mahasiswi yang mengajukan beasiswa, yang uang jajannya perminggu mungkin bagi orang-orang di luar sana hanya bisa digunakan sekali jalan ke mall. Saya jauh dari segala gemerlap itu, saya harus menabung untuk bisa membeli satu novel. Yah, mungkin memang karena alasan itu, istilahnya kami berbeda kasta dan karena itu dia pergi. Saya juga gadis cengeng yang merepotkan dengan wajah yang mungkin tidak masuk ‘hitungan’ dia. 

Ketiga, saya membuat kesalahan besar, waktu itu saya masih berurusan dengan mantan saya (yang sekarang saya sudah tahu lelaki seperti apa dia) di sisi lain saya tidak ingin kehilangan dia. Jadi.... bisa ditebak sendiri, mungkin dia mengira saya hanya mempermainkannya dan menjadikannya pelarian, tempat saya berlabuh ketika saya merasa sedih karena mantan saya itu. Harus saya akui, waktu itu saya belum bisa sepenuhnya melupakan mantan saya, tapi itu hanya untuk sementara waktu, semua yang ‘baru saja putus’ pasti pernah merasakan itu tapi sepertinya dia menyangka saya masih mengharapkan mantan saya. Kalau memang itu alasannya, saya minta maaf tapi saya benar-benar lebih takut kehilangan dia. Tanya teman-teman saya bagaimana diri saya ketika dia pergi. Dia seharusnya tahu siapa yang lebih penting bagi saya, waktu 2 tahun ini membuktikannya. Saya hanya butuh waktu beberapa hari untuk melupakan mantan saya, tapi untuk dia? Sampai sekarang. Tanya saya bagaimana cara dia tersenyum pada saya waktu itu di depan kelas XI IPA 4 di SMA saat Future Day? Saya masih ingat, sangat jelas seolah baru kemarin.

Keempat, mungkin dia memilih orang lain, lebih baik dan lebih segalanya daripada saya. Karena itulah dia pergi dan sekarang, saya hanya seperti debu yang mengganggu di pelupuk matanya.


Saya tidak tahu, yang mana spekulasi saya yang benar. Entahlah. Misteri itu tidak juga terjawab, saya tidak juga mendapatkan alasan dan saya juga terlalu takut untuk bertanya. Setiap saya ingin bertanya kenyataan saya selalu merasa sepertinya saya mengganggunya, dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni saya, saya takut akan respons-respons dingin dan ogah-ogahan yang akan ia lontarkan kalau saya mengganggunya dengan pertanyaan kecil. Bahkan hanya untuk menyapanya saya terlalu takut.

Mengganggu.


Nah, kali ini saya masuk ke bagian ‘memberikan alasan’.

Kenapa saya memutuskan untuk pergi juga dari hadapan dia? Karena semakin hari saya semakin yakin apapun yang saya lakukan di depan dia hanya akan semakin mengganggu dia. Toh, dia juga tidak peduli sekalipun dia tahu saya (masih) menunggu.

Saya juga memutuskan melakukan ini karena saya sadar telah menunggu sia-sia, saya seperti orang konyol yang tetap menunggu di depan pintu rumahnya sekalipun telah diusir. Jangan tanya bagaimana rasanya.

Saya tidak bodoh, saya bisa membedakan bagaimana sikapnya terhadap saya. Saya harus melakukan ini. Terus menerus dipertahankan hanya akan membuat saya semakin terlihat menyedihkan meskipun sebenarnya saya tidak peduli dengan pandangan orang.

Mungkin saya akan terlihat seperti pengecut tapi jujur, sayapun awalnya tidak mau tapi dia sepertinya ingin saya segera menjauh, jadi saya membulatkan tekad untuk melakukan ini.

Tadinya saya juga terpikir untuk melakukannya di jejaring sosial karena membaca semua tweet-tweet dia membuat saya seperti terjun bebas dari angkasa tanpa ada bantalan di daratan. Tapi saya rasa, untuk jejaring sosial saya bisa menahannya. dalam jangka waktu beberapa saat lagi.

Jadi, setelah saya mengambil langkah ini apakah dia senang? Mungkin sepele untuk dia tapi tidak bagi saya.

Untuk kali ini saya memberanikan diri untuk benar-benar pergi. Bukan hanya wacana semata dan melalui tulisan ini saya mengungkapkan alasannya, berbagai hal yang selama ini tidak pernah saya ungkapkan.

Mungkin di waktu depan, saya akan menyesali keputusan saya menulis ini, tapi untuk saat ini saya senang saya bisa jujur terhadap diri saya sendiri. Meskipun kalian yang membacanya pasti merasa seperti membaca roman picisan yang menggelikan yang ditulis seorang ababil. Terserahlah, saya hanya ingin mengungkapkan semuanya.


Aku patahkan sayap kupu-kupu itu karena kamu memang mengusirnya.

dan hari ini, awan memutuskan memisahkan diri dari angin yang selama ini dicintainya, karena angin itu tak henti membuatnya berpusar di langit kelabu. Awan merindukan langit biru.


"...I breathe through every part of my body that includes my soul now I am left floating like the clouds.. to... somewhere, there is no you."



Kalau begitu, ini berarti pengungkapan alasan sekaligus salam perpisahan.
Goodbye, terima kasih untuk semuanya. Jaga dirimu baik-baik ya ^^


If you lost, you can look and you will find me time after time.
regards, me.





















I stared blankly at you, already that far away
It seemed like you would turn back again to look
I thought if I cried now, it might really become farewell
So I pretended to be calm and let you go

I thought about asking you not to go
But I couldn't say anything because of your cold expression
And just watched

I hated myself for just crying like that
Turn back the time
I want to go back to when I didn't know you

(Blankly - Miss A)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar