Sabtu, 17 Maret 2012

Dia

Dia miskin? Bukan berarti dia miskin ilmu

Dia miskin?

Apakah itu inginnya?

Adakah yang bisa menjawab pertanyaannya?

Hanya Ia yang dia percayai yang bisa memberikannya jawaban

Karena hidup adalah pertanyaan dan muara jawaban ada pada Tuhan


Dia miskin? dia terbiasa menelan kepahitannya sendirian

Dia terbiasa jadi saksi apa yang mereka pamerkan dan pertontonkan

Matanya terbiasa, benaknya terbiasa, hatinya yang juga inginpun terbiasa

Dia terbiasa dengan unsur-unsur congkak duniawi yang menginjaknya


Dia terbiasa tidak punya apa yang orang lain punya

Dia terbiasa untuk menahan diri karena tahu material yang dimilikinya

Dia tahu, dia mafhum, dia terima saat ekspektasinya takkan mudah terpenuhi

Saat waktu dan kondisi seolah menjadi tirani

Dia tahu itu, tak perlulah kalian beritahu

Kalau dia bukan sang putri, dia tahu dia upik abu


Tapi benarkah ia miskin?

Materi memang.. tapi dia punya mimpi

Dia punya angan, punya asa, punya tekad

Dia punya awannya sendiri


Dia mencari ilmu, dia punya tulisan

Ketika raganya mati, pemikirannya takkan ikut mati


Dia punya mimpi

Masihkah kita sebut dia miskin?

Masihkah kita sombongkan apa yang kita miliki? Segala yang hanya sementara itu?


Dia sama sekali tidak miskin.

Apa lagi kini? Permasalahannya... tentang perbedaan lagikah?

-Resannisa, 16 Maret 2012


*Karena ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan keinginan bersumber pada kepahitan... itulah hidup bagi golongan orang-orang tertentu.. Orang-orang yang percaya akan mimpi dan perwujudannya. Orang-orang yang berikhtiar untuk masa depannya.*


Minggu, 11 Maret 2012

Aku Mau Jadi Bu Guru

Dosen Profesi Kependidikan gue bilang: “Sekarang banyak calon guru yang setengah hati, mereka mau jadi guru bukan karena keinginan dari hati mereka”

Kalo gue? Bagi gue pribadi, jadi guru itu panggilan jiwa. Ah, coba aja gue masih nyimpen kertas karangan gue waktu gue kelas 2 SD tentang keinginan gue jadi guru.

Temen-temen gue yang lain mau jadi dokter, insinyur, polisi atau polwan, and blablabla.

Paradigma guru dari dulu sampe sekarang memang begitu. Malah rata-rata siswa yang tiga besar gitu di sekolahnya ga bakalan mau jadi guru.

Kenapa gitu yah? Bagi gue jadi tenaga pendidik itu pengabdian. Guru itu profesi yang ga mudah, kenapa masih dianggap remeh? FYI, di Jepang guru itu dianggap pahlawan.

Guru itu bagian yang menentukan akan seperti apa generasi bangsa selanjutnya. Emangnya bisa ada presiden kalo ga ada guru?

Impian gue dari gue umur enam tahun, masih cengo polos los los adalah jadi guru dan ga berubah sampe sekarang.

Guru-guru favorit gue apa kabar ya.. Bu Iis, guru SD gue yang bikin gue semakin pengen jadi guru. Bu Mimin guru Bahasa Indonesia gue pas SMP yang ngerekomendasiin gue buat jadi wakil sekolah di lomba menulis antar SMP gugus kabupaten dan juga guru-guru Bahasa Indonesia gue di SMA yang semakin menambah minat gue sama literature dan pendidikan.

Pilihan gue untuk jadi guru ga dipengaruhin siapapun, murni keinginan gue dari dulu, dari kelas 2 SD. Mungkin ada temen SD gue yang masih nyimpen biodata gue? (dulu kan suka gitu tuker-tukeran biodata pake kertas file warna-warni). Lo bakalan liat di bagian “Cita-cita: ....” gue nulis: “Guru”.


Kelak gue bakalan jadi guru yang ketika berhalangan ngajar, murid-muridnya bakalan ngerasa kehilangan dan bukannya bersyukur kalo gue ga masuk -_-. Semoga impian gue jadi guru yang baik dan disenangi anak murid tercapai ya.. amiiin ^^ Gue juga mau jadi guru bahasa yang suka nulis hehe *teteup*


Menjadi seorang guru bukan hanya tentang mencari keuntungan, menjadi guru adalah tentang pengabdian


Sampai jumpa anak-anak muridku nanti... ^^

One Year Later, Kpop dan Pluralisme

One Year Later - Onew ft Jessica [English Trans] *mohon maaf kalo terjemahannya acak2an ^^v


It feels like I’ve dreamed for a long time
For a while, I’ve wandered and wandered

We’re standing face to face, just like that day

The beautiful stories we wrote down then

The promises of forever we prayed then
All come back to me one by one

I knew my heart wouldn’t be able to take this
For you, I held it back even more
So how was your year?


I’ve lived and tried to forget for a long time

For a while, it seemed like it was okay

But as time passes by, I come to realize
That without you, I can’t go on

Maybe if we were just a little more mature then
Maybe if we knew back then what we know now


Endless regret only repeats itself

I have no will to save myself
But I tightly held all of that in
That’s how one year has passed


Are your feelings the same as mine?

Can you give me one more chance?

I now know that we can never part
(You’re) The one person I loved and still love


If we could have gone back to those good old days, I would
To the days when our love was beautiful and happy

Heartbreaking stories, meaningless arguments

Let’s bury them all now
And say we’ll never bring it back up

The season changes again

Even when many years pass

Let’s never have the same feelings we had today


Gue suka banget lagu ini.. yang nyanyinya itu leader SHINee, bias gue.. Onew ^^ dia duet sama Jessica SNSD *kenapa mesti sama Jessica? ._.*

Harusnya lagu ini gue postnya bukan sekarang ya, harusnya gue post nanti.. awal April biar sesuai gitu *eh


Sebelumnya gue udah pernah ngepost tentang kecintaan gue terhadap Kpop dan Jepang. Gue tau kok, banyak orang yang memandang Kpop itu sebelah mata , alay, nyampah, ga keren, ga ada apa-apanya dibanding blablabla, lewat deh kalo dibandingin sama blablabla dan sebagainya. gue tau. Terserah juga sih mau bilang apa, mau jelek-jelekin musiknya juga ga apa-apa tapi seengganya ya hargailah, tiap orang itu berbeda-beda lho..

Menurut gue, Kpop itu bukan cuma tentang boyband-boyband, bukan cum
a ngedance sambil mangap-mangap *anggapannya begitu kan*.
Padahal mereka menurut gue ini multitalent, suara ga pas-p
asan terus sambil ngapalin koreografi yang rumit, terus enak banget lagi ngedancenya. Pada bisa nyiptain lagu, bisa main alat musik. Sebelum mereka debut jadi sebuah boyband, di Korea sana kan pada jadi trainee dulu, ditempa, diasah bakatnya. Ga main-main.

Lagu-lagu Kpop yang ceria itu bikin gue hepi, daripada menye-menye mulu gue? kebetulan lagu-lagu yang disko-disko gemerlap ajep-ajep gitu emang gue ga terlalu ngedengerin banget, malah kadang gue pusing dengernya *just saying* nah kalo Kpop tuh beda.. lagu-lagunya moodbooster, santai, gue juga ikutan ngedance apalagi kalo nonton mv-mvnya hehe


Yep. I love Kpop! ^^;

Selera musik gue ga cuma Kpop, gue juga suka banget banget banget musikn
ya Mocca, RAN, Adhitia Sofyan, Coldplay, The Beatles, Sondre Lerche, She and Him, Michael Buble, instrumental piano atau gitar. Gue ga pernah ngejelek-jelekin genre musik tertentu, waktu ade gue suka smash *sekarang dia kpopers* gue ga ngomen apa-apa meskipun gue ga suka, bokap gue ngefans berat sama Iwan Fals dan gue ga suka tapi gue nyimpen beberapa lagunya di playlist, waktu temen gue di kostan nyetel lagu-lagu black metal gue malah ikutan scream sambil nyuci (?)

Jadi kesimpulannya? Selera orang kan beda-beda yah dan perbedaan itu k
an emang udah bagian dari kehidupan yang ga bakal bisa dilepaskan. Ada baiknya kita juga saling menghargai perbedaan. Kenapa kita harus jadi pribadi yang tidak mentolerir adanya perbedaan? ^^

Pluralisme namanya. Bukan hanya tentang satu hal, ga cuma tentang SARA.. Bisa juga dalam berbagai bidang misalnya ya seperti musik tadi. Kenapa pluralisme itu jadi hal yang aneh? Bukankah pluralisme itu indah? :)




"Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta." -Soe Hok Gie


love, resannisa.
*ditulis ketika lagi pms -_-*
*Oh ya, itu gambar gue. Jelek? Iya gue tau. Tapi cukup 'menjelaskan' kan? huehehe*